Cerita Rakyat Kepulauan Riau Dang Gedunai

  • Bagikan
Cerita Rakyat

Hal yang paling bermanfaat bagi para ibu untuk menidurkan sibuah hatinya yaitu dengan memberikan cerita rakyat sebelum tidur,mengapa demikian karena memberikan cerita atau dongeng sebelum tidur banyak sekali manfaatnya.

Oleh karena itu kami dari faktapopuler.com akan memberikan cerita rakyat yang mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi para ibu,disimak ceritanya yah bun.

Cerita Rakyat Dang Gedunai

Di wilayah kepulauan Riau pada masa lampau hiduplah seorang anak lelaki bernama Dang Gedunai. Dang Gedunai hanya tinggal berdua dengan emaknya setelah ayahnya meninggal dunia.

Dang Gedunai dikenal bodoh dan kerap menjadi bahan tertawaan orang lain karena kebodohannya. Namun demikian, emaknya amat menyayanginya.

Pada suatu hari Dang Gedunai mencari ikan di sungai dengan menggunakan tangguk. Ketika itu ia tidak mendapatkan ikan, walau seekor pun, namun malah mendapatkan sebutir telur besar.

Dang Gedunai mengamat-amati telur besar temuannya itu. Sangat yakinlah ia kemudian jika telur yang ditemukannya itu adalah telur badak.

Aku menemukan telur badak!” teriak Dang Gedunai dengan wajah menyemburat gembira. “Aku yakin, telur badak ini rasanya sangat lezat jika dimasak atau digoreng!”

Orang-orang yang tengah mencari ikan bersama Dang Gedunai terperanjat mendengar teriakan Dang Gedunai. Mereka bergegas mendatangi Dang Gedunai.

Mereka terkejut melihat Dang Gedunai memegang sebutir telur besar. Mereka tidak tahu telur apa yang dipegang Dang Gedunai itu.

Ini telur badak,” kata Dang Gedunai menjawab pertanyaan orang-orang itu.

Telur badak?” mereka keheranan. “Bukankah badak itu beranak dan bukan bertelur?

Lantas, telur apa ini jika bukan telur badak? Jika ini telur burung, burung apakah yang bertelur sebesar ini?” Dang Gedunai gigih mempertahankan pendapatnya.

“Aku tidak tahu itu telur apa, namun yang jelas itu bukan telur badak!” salah seorang dari mereka tegas berujar. “Badak itu tidak bertelur. Jangan engkau umbar kebodohanmu itu dengan menyebutkan itu telur badak!”

Namun, Dang Gedunai tidak peduli. Menurutnya, teluryang didapatkannya itu adalah telur badak. Dengan wajah gembira berseri- seri, Dang Gedunai membawa telur temuannya itu pulang ke rumah.

Ditemuinya ibunya dan ditunjukkannya telur yang baru saja didapatkannya itu. “Ibu, lihat. Aku menemukan telur badak.”

Sejenak mengamat-amati, emak Dang Gedunai menjadi terkejut. Katanya, “Anakku, ini bukan telur badak. Ini telur naga!”

Kedua alis Dang Gedunai menaik. “Ini telur naga?” tanyanya untuk meyakinkan.

Benar, itu telur naga,” sahut emaknya.

Mungkinkah naga datang ke sungai?” sanggah Dang Gedunai. Kepala Dang Gedunai menggeleng-geleng dan kemudian berujar, ”Aku tidak yakin, Mak. Menurutku, ini telur badak. Seekor badak betina datang ke sungai itu dan bertelur.”

Emak Dang Gedunai mencoba menyabarkan diri dan memberikan penjelasannya, “Anakku, badak itu tidak bertelur melainkan beranak.

Percayalah pada Ibu, itu telur naga. Sekali-kali janganlah engkau berani memakannya! Ingatlah akan pesan Emak ini.”

Dang Gedunai tetap percaya jika telur temuannya itu adalah telur badak. Ia tetap yakin jika telur itu nikmat rasanya jika dimakan. Ia bersikeras untuk memakannya.

Maka, keesokan harinya Dang Gedunai berpura-pura sakit ketika emaknya mengajaknya berangkat ke ladang.

Sepeninggal emaknya, Dang Gedunai lantas memasak dan memakan telur besar itu. “Emm … lezat sekali rasa telur badak ini,” katanya. “Nanti aku akan mencari telur badak lagi.”

Setelah memakan telur besar itu Dang Gedunai merasa mengantuk. Ia lalu merebahkan diri di ranjang dan sebentar kemudian ia telah tertidur. Amat lelap tidurnya.

Dang Gedunai pun bermimpi. Dalam impiannya itu ia didatangi seekor naga betina yang sangat besar. Naga betina itu berkata kepada Dang Gedunai,

Siapa pun juga yang berani memakan telurku, maka ia akan menjadi naga sebagai pengganti anakku!

Dang Gedunai langsung terbangun. Ia sangat takut jika impiannya itu menjadi kenyataan. Tiba- tiba ia merasa sangat haus. Ia pun bergegas mengambil air minum.

Segelas, dua gelas, tiga gelas, hingga tujuh gelas air telah diminumnya. Aneh, ia tetap merasa sangat haus. Ia pun menuju belakang dapur dan meminum air dari tempayan. Air satu tempayan penuh langsung diminumnya, namun ia tetap merasa sangat haus.

Amat terkejutlah emak Dang Gedunai ketika pulang dari ladang mendapati keadaan anaknya yang terus-menerus merasa kehausan itu.

Semua air di rumah itu telah habis diminum Dang Gedunai, namun Dang Gedunai masih tetap merasa haus. “Mak, aku haus! Sangat haus! Aku minta minum, Mak!”

Emak Dang Gedunai sangat keheranan mendapati anaknya terus-menerus kehausan. Ia menjadi yakin kemudian, anaknya itu pasti telah memakan telur naga. “Anakku, apakah telur naga itu engkau makan?”

Ya, Mak,” jawab Dang Gedunai. “Rasanya enak sekali. Namun, aku menjadi sangat haus. Aku haus, Mak! Haus sekali!

Para tetangga Dang Gedunai terkejut mendengar suara teriakan Dang Gedunai. Mereka lantas berdatangan ke rumah Dang Gedunai. Mereka kemudian mengambil air dari rumah mereka masing-masing untuk minum Dang Gedunai.

Namun hingga semua air itu habis diminum Dang Gedunai, Dang Gedunai tetap merasa haus. Seperti tidak bisa lagi mencegah rasa hausnya, Dang Gedunai menuju sumur. Air di dalam sumur itu diminumnya hingga tandas. Aneh, tetap juga Dang Gedunai merasa haus.

Emak Dang Gedunai lantas membawa anaknya itu ke danau. Dang Gedunai meminum air danau itu. Benar-benar mengherankan, seluruh air di danau itu habis diminumnya.

Orang-orang sangat terperangah melihat pemandangan yang sangat mengejutkan sekaligus mengherankan itu. Bertambah-tambah keheranan dan keterkejutan mereka ketika mendapati Dang Gedunai masih juga merasa haus.

Emak Dang Gedunai yang kebingungan lalu membawa anaknya itu ke sungai.

Setibanya di sungai, Dang Gedunai berkata, “Mak, aku akan mengikuti arus sungai ini hingga sampai ke laut. Maafkan aku, Mak. Aku rasa, aku akan menjadi seekor naga.”

Emak Dang Gedunai sangat sedih mendengar ucapan anaknya itu. Meski anaknya telah melanggar pesannya, namun ia sangat menyayangi anak semata wayangnya itu.

Ia sangat sedih jika harus berpisah. Dengan airmata bercucuran dipandanginya tubuh anak tercintanya yang sedang berenang cepat mengikuti arus sungai itu.

Ia kemudian berjalan menuju muara sungai sementara Dang Gedunai berenang dengan cepat hingga akhirnya tiba di laut.

Setibanya di pantai, Emak Dang Gedunai tidak mendapati anaknya. Airmatanya kian deras mengucur. Dipandanginya laut yang terus berombak tiada henti itu.

Tetap ia berharap anaknya akan muncul dan kembali kepadanya. Namun, yang ditunggunya tidak juga muncul. Hingga berhari-hari ia berdiam di pantai itu, Dang Gedunai yang sangat dicintainya itu tidak juga muncul.

Pada suatu hari Emak Dang Gedunai melihat laut berombak sangat besar. Air laut serasa diaduk-aduk oleh kekuatan raksasa yang tidak terlihat.

Semua yang dilihatnya itu membuat Emak Dang Gedunai menjadi keheranan berbaur dengan rasa terkejut. Keterkejutan Emak Dang Gedunai bertambah-tambah saat mendapati seekor naga besar muncul dari laut. Naga besar itu bergerak cepat menuju pantai tempat Emak Dang Gedunai berada.

Mak,” panggil Si naga besar.

Emak Dang Gedunai menyadari jika naga besar itu tak lain adalah jelmaan anak semata wayangnya. Dengan pandangan penuh kasih sayang ditatapnya anak tercintanya itu.

Mak, maafkan aku yang tidak mendengarkan nasihatmu. Mak telah memintaku untuk tidak memakan telur naga itu, namun aku bersikeras untuk memakannya. Maafkan aku, Mak. Karena kesalahanku akibat tidak mendengarkan nasihatmu, kini aku berubah menjadi seekor naga. Tempat tinggalku tidak lagi di rumah bersamamu, melainkan di lautan luas ini.”

Emak Dang Gedunai kian mencucurkan airmata mendengar pengakuan dan penyesalan anak kandungnya itu.

Mak, jika Emak rindu untuk bertemu denganku, datanglah ke pantai ini. Pandangilah laut luas yang terbentang di hadapanmu. Perhatikan keadaan laut. Jika laut dalam keadaan tenang, itu berarti aku tengah tertidur, Mak. Namun, jika laut tampak berombak besar, itu pertanda aku tengah mencari makan. Ingatlah baik-baik pesanku ini, Mak.

Ya, Dang Gedunai anakku. Emakmu ini akan senantiasa mengingat-ingat pesanmu itu.”

Selamat tinggal, Mak,” kata Dang Gedunai. “Meski wujudku telah berubah menjadi naga besar, aku ini tetap anakmu, Mak. Aku tetap Dang Gedunai. Oleh karena itu, aku mohon doa dan restumu, Mak.”

Ya, anakku. Doa dan restuku senantiasa tercurah kepadamu.

Naga besar jelmaan Dang Gedunai Itu lantas menyelam kembali ke dasar laut, meski Emak Dang Gedunai semula hendak menyentuhnya. Ia telah kembali ke kediamannya yang baru.

Pesan Dang Gedunai disebarluaskan emaknya. Sejak saat itu para nelayan akan senantiasa melihat kondiSI laut terlebih dahulu sebelum melaut.

Jika laut berombak ganas, mereka urungkan niat mereka untuk melaut. Mereka tahu, naga besar jelmaan Dang Gedunai tengah mencari mangsa ketika Itu.

Mereka takut menjadi mangsa Dang Gedunai. Hanya ketika naga besarjelmaan Dang Gedunai Itu tertidur saja mereka baru berani melaut untuk mencari Ikan.

Jika artikel tentang cerita rakyat ini bermanfaat bagi kamu.jangan lupa untuk share yah. ditunggu cerita menarik lainnya, Terima kasih

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *